Selasa, 03 April 2012

hikmah -hikmah dalam mempelajari ilmu tauhid


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang

Sebagaimana kita ketahui bahwa, Ilmu Tauhid merupakan ilmu yang sangat vital didalam Islam. Sebab Ilmu Tauhid adalah sebagian dari tanda-tanda agama sejati dan murni yang diturunkan oleh Allah yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Tanpa mengetahui Ilmu Tauhid, kita tidak akan menemukan tujuan hidup sebenarnya, sebab seorang hamba harus tahu benar, siapa yang disembah dan dimana kita berdiam setelah mati.
  Apakah akan berdiam ditempat yang menyenangkan, atau ditempat yang menyedihkan. Semuanya tentu tergantung si-hamba sendiri.      
Bagaimana ia mempergunakan kesempatan hidup ini, dan hamba yang mengetahui dirinya sebagai hamba Allah tentu tahu benar, bagaimana memanfaatkan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Sebab ia mengetahui ketika dilahirkan dirinya dalam keadaan fitrah (suci), dan kembalinya pun harus dalam keadaan yang suci agar dapat yang fitrah pula, yakni surga.       
Agama berjalan menyempurnakan fitrah manusia dalam mencapai kemajuannya dengan cara evaluasi, sehingga hal itu telah menjadi sunnah (ketentuan) umum dalam satu kehidupan manusia. Allah menyempurnakan agama Islam dengan perantara nabi Muhammad yang mengahiri semua nabi dan rasul untuk membawa ummat manusia kepada martabat kemerdekaan yang lebih sempurna.

B. Rumusan Masalah
Apa saja hikmah -hikmah dalam mempelajari  ilmu tauhid ?
C. Tujuan Penulisan
Agar para pembaca atau khususnya para mahasiswa dan mahasiswi dapat  lebih mengetahui dan mendalami tentang maksud dan tujuan mempelajari ilmu Tauhid , serta pembahasan mengenai Hikmah tauhid yang tertuang di dalam makalah ini.





BAB II
PEMBAHASAN

A. Hikmah Mempelajari Ilmu Tauhid
            Mempelajari ilmu tauhid biasanya didorong oleh keinginan untuk mempelajari lebih banyak dan lebih dalam pengertian tentang Tuhan. Kalau tauhid sudah masuk dan meresap kedalam jiwa seseorang maka didalam jiwanya akan tumbuh perasaan:
a)    Rela atas pemberian Allah atas dirinya mengenai rizki, kedudukan, dan lain-lain.   Dengan demikian maka hidupnya menjadi tertib sebab dia yakin atas pengawasan Allah terhadap segala perilakunya. Firman Allah SWT
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا                
فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
Artinya: ”Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, Padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’du: 26)
   
الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
          Artinya: ”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram           dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati       menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du: 28)
b.   Rasa saling menghargai, swbab orang yang bertauhid memandang semua manusia sama derajatnya, berasal dari satu keturunan dan tidak ada yang berhak diperhamba. Semua manusia hanya didikuti amal kebijakannya disisi Allah SWT, dan bertanggung jawab kepada-Nya. Allah berfirman (QS. Al-Hujurat: 13)   

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ    
Artinya: ”Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”  
Dengan dimikian maka orang yang bertauhid itu merasa bahwa dirinya sama dengan orang atau bangsa lain, dia tidak berhak mempertuhankan diri atau orang lain. Tinggi rendahnya derajat manusia hanya diukur dari kebajikan yang telah dibuat.
c.    Rasa kasih sayang terhadap sesama manusia. Orang bertauhid memandang semua manusia saudara, tidak bertindak aniaya terhadap semua mahluk Tuhan. Ummat bertauhid hidup berdasar peri kemanusiaan dan persaudaraan, selalu bersikap terbuka, kerja sama, dan bergotong royong. Sabda rasul S.A.W :                 
Artinya: “Gagal dan rugilah kehidupan seseorang yang hatinya tidak ditanamkan Allah, rasa kasih saying kepada sesame manusia.” (HR. Abu Na’im Al-Abhani)        
            Jadi jelas, kalau kita mempelajari Tauhid dan kemudian tumbuh dalam jiwa kita, maka akan keluarlah dari benih-benih tauhid itu pohon yang rindang yang dapat digunakan untuk berlindung diwaktu panas dan hujan, serta buahnya juga sedap dimakan.
         
Diantara buah yang lezat itu adalah:
   
a) Kesungguhan orang yang tetap dijalan Allah
        
b) Kegemaran yang menghasilkan manfaat untuk umum
      
c) Akan selalu membelanjakan hartanya dijalan Allah
3. Objek Kajia Ilmu Tauhid
    a) Sifat-sifat Allah
          • Sifat-sifat wajib dan sifat-sifat mustahil Allah SWT       
            No Sifat Wajib Allah Sifat Mustahil Allah      
            1. Wujud: Ada Mustahil Allah tidak ada 
            2. Qidam: sedia Mustahil Allah didahului oleh adam   
            3. Baqa: kekal Mustahil Allah dikatakan (fana) binasa
  4. Mukhalafatul lilhawadisi: tidak sama dengan mahluk ciptaanNya Mustahil Allah sama dengan mahluk yang baharu.
 5. Qiyamuhu binafsih: berdiri dengan diri-Nya sendiri Mustahil Allah tidak berdiri dengan diri-Nya sendiri.
 6. Wahdaniyat: Esa Mustahil Allah mempunyai dzat, sifat dan perangai yang berbilang-bilang.
7. Qodrat: kuasa Mustahil Allah lemah dan tidak berkuasa.
8. Iradat: menentukan Mustahil Allah terpaksa dan dipaksa.
9. Ilmu: mengetahui Mustahil Allah tidak mengetahui.
10. Hayat: hidup Mustahil Allah tiada atau mati.
11. Sama’: mendengar Mustahil Allah tuli.
12. Basar: melihat Mustahil Allah buta
13. Kalam: berkata-kata Mustahil Allah bisu
14. Qoodirun: maha kuasa Mustahil Allah lemah\
15. Mudirun: menentukan Mustahil Allah terpaksa atau dipaksa       
16. Alimun: maha mengetahui Mustahil Allah jahil         
• Sifat jaiz Allah
Dari keterangan diatas Allah itu bebas melakukan hal yang mungkin tidak  mungkin        .
b) Sifat-sifat Rasul
• Sifat-sifat wajib rasul 
 1) Siddiq: benar didalam tutur kata dan tingkah laku      
 2) Amanah: dapat dipercaya   
 3) Tabligh: menyampaikan wahyu yang diterima dari Allah        
 4) Fatonah: kecerdikan, kepintaran dan kebijaksanaan
• Sifat-sifat mustahil rasul        
1) Kazib: dosa
      
2) Khianat : curang
        
3) Khitman: menyembunyikan
   
4) Kafih: bodoh
4. Materi Ilmu Tauhid
  Adalah dapat dipastikan bahwa esensi peradaban islam adalah islam itu sendiri dan esensi islam adalah tauhid. Dua premis dasar ini berswa-bukti, tidak bisa diragukan oleh orang-orang yang termasuk dalam peradaban islam atau yang termasuk didalamnya bahwa kebudataan islam dan peradaban islam mempunyai suatu esesnsi pengetahuan yaitu tauhid.
a) Ta’rif Tauhid Rububiyyah
Tauhid rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah swt baik mencipta, memberi rizki menghidupkan dan mematikan serta bahwasanya dia adalah raja, penguasa dan yang mengatur segala sesuatu. Firman Allah swt  
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ   
Artinya: ”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)
Orang musyrikin juga mengakui tentang sifat rububiyyah Allah. mereka mengakui bahwasanya hanya allah semata pencipta segala sesuatu, pemberi rezeki, yang memiliki langit dan bumi, dan yang mengatur alam semesta, namun mereka juga menetapkan berhala-berhala yang mereka anggap sebagai penolong, yang mereka bertawasul dengannya (berhala tersebut) dan menjadikan mereka pemberi syafa’at. Firman Allah swt      
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ  
Artinya: ”dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya Kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?” (QS.Al-Ankabut :10)
     
Sebagian ulama salaf berkata: “jika kalian tanya pada mereka: siapa yang menciptakan langit dan bumi ?’ mereka pasti menjawab: ‘allah.’ walaupun demikian mereka tetap saja menyembah kepada selain-Nya.”
b)   Tauhid uluhiyyah   
Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena itulah maknanya adalah ma'bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do'a kecuali allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh menyembelih kurban atau bernadzar kecuali untuk-Nya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali untuk-Nya dan karena-Nya semata. Firman Allah swt (QS. Ali-Imron: 18)   
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  
Artinya: ”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
    
           Berkata syaikh al-‘allamah ‘abdurrahman bin nashir as-sa’di rahimahullah (wafat th. 1376 h): “bahwasanya Allah itu tunggal dzat-nya, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya. tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam dzat-Nya, nama-nama, sifat-sifat-Nya. tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara dan tidak ada sekutu bagi-Nya. tidak ada yang mencipta dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. tidak boleh dia disekutukan dengan seorang pun dari makhluk-Nya”.         
c) Tauhid Mulkiyyah / Hakimiyyah
       
Tauhid Mulkiyyah yaitu mentauhidkan Allah dalam mulkiyahnya bermakna kita mengesakan Allah terhadap pemilikan, pemerintahan dan penguasaannya terhadap alam ini. Dialah pemimpin, pembuat hukum dan pemerintah kepada alam ini. hanya landasan kepemimpinan yang dituntut oleh Allah saja yang menjadi ikutan kita. hanya hukuman yang diturunkan oleh Allah saja menjadi pakaian kita dan hanya perintah dari allah saja menjadi junjungan kita. Firman Allah swt (QS. Ali-Imron: 26)
   
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ      
Artinya: “Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
       
Tauhid Mulkiyah menuntut adanya ke-wala-an secara totalitas kepada allah, rasul dan amirul mukmin (selama tidak bermaksiat kepada Allah swt).
        
d) Integrasi Ketiganya
    
Melihat pada ta’rif yang ada, siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah swt, dan itulah tauhid uluhiyah. Maka dengan sendirinya seseorang yang mengakui dan mengamalkan tauhid rububiyyah dan uluhiyyah, telah menjalankan pula tauhid mulkiyyah, sebab tauhid mulkiyyah esensinya sudah terkandung didalam tauhid rububiyyah, uluhiyyah maupun tauhid asma wa shifah. Namun di saat syirik merajalela di kalangan ummat dalam bentuk memutuskan hukum tidak sesuai dengan apa yang allah turunkan, tetapi memutuskan hukum menggunakan undang-undang kufur dan uu thaghut. kondisi ini mengisyaratkan agar istilah tauhid mulkiyyah/hakimiyyah ini disebutkan tersendiri agar orang-orang melihat urgensi tauhid ini. tanpa adanya tauhid ini maka sesunggunya mereka belum memenuhi tuntutan tauhid uluhiyah sebagaimana mestinya.
 
IV. KESIMPULAN

Ilmu Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang Allah SWT, baik sifat-sifat yang wajib pada-Nya, sifat-sifat yang boleh disifatkan kepada-Nya, dan sifat yang sama sekali harus ditiadakan dari pada-Nya, serta tentang rasul-rasul-Nya untuk menentukan kerasulan mereka, hal-hal yang wajib ada dalam diri mereka, hal-hal yang boleh dikaitkan (dinisbahkan) kepada mereka, dan hal-hal yang terlarang untuk mengaitkannya kepada mereka.
       
Adapun pokok pembahasannya yang paling penting adalah menetapkan keesaan (wahdah) Allah SWT dalam dzat-Nya. Dalam menerima peribadatan dari mahluk-Nya, dan meyakini bahwa Dia-lah tempat kembali, satu-satunya tujuan. Kemudian mengenai materi yang terkandung dalam tauhid ada tiga macam, yaitu tauhid rububiyyah, uluhiyyah, dan mulkiyyah dimana ketiganya saling terkait antara satu sama lain.
   

V. PENUTUP
     
Demikianlah makalah tentang Ilmu Tauhid (Materi dan Obyek Kajiannya) yang kami buat. Semoga sedikit uraian kami ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Penulis sangat menyadari, bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu penulis sangat mengharapkan adanya kritikan yang konstruktif dan sistematis dari pembaca yang budiman, guna melahirkan sebuah perbaikan dalam penyusulan makalah selanjutnya yang lebih baik.   



                                             DAFTAR PUSTAKA       

Hanifah Ahmad, MA, Theologi Islam (Ilmu Kalam), 1990, Jakarta: PT. Bulan Bintang
 
Syekh Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, 1963, Jakarta: Bulan Bintang

Syukur Amin, MA, Pengantar Studi Islam, 2000, Semarang: CV. Bima Sejati
            
Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap, 1996, Jakarta: Rineka Cipta.
    
Isma’il Raji Al-Faruqi. ”Tauhid”. 1995. Bandung: Pustaka.
  
Wihadi Admojo, dkk. Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka;
1990.
Muhammad Hasby Ash Ashiddieqy. “Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam”. PT. Pustaka Rizki Putra. Semarang. 1999.
   
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/tauhid-uluhiyah-rububiyah-dan-mulkiyah-serta-integrasi-ketiganya


1 komentar:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    BalasHapus